Saat Geraham Harus Dicabut..

Gigi manusia normalnya berjumlah 32 gigi, terbagi dua di bagian rahang atas dan bawah. Pun diriku. Punya 32 gigi yang harusnya udah keluar semua karena kan aku udah usia dewasa. Cieeee

Tapi kasus saya adalah, dari 16 gigi yang harusnya nangkring di rahang bawah, hanya 14 gigi aja yang bisa “unjuk gigi” dengan sempurna..yang satu tumbuh miring tenggelam di dalam gusi tapi alhamdulillah tidak menimbulkan rasa sakit, yang satu lagi ini, dia tumbuh lebih tegak daripada kembarannya, tapi berulang kali timbul tenggelam dan menimbulkan nyeri-nyeri nyut-nyut an sampe migren-migren an…

Setelah belasan tahun berulang kali sakit gigi, akhinya aku menyerah juga dan bersiap minta pak dokter buat cabut gigi. Karena udah punya BPJS, jadi harus dimanfaatkan ya.

  1. Urus BPJS

Walaupun lebih separo umur saya habiskan di Jogja, seluruh tanda pengenal saya mulai masih beralamatkan Semarang. Agar BPJS bisa dipakai di Jogja ternyata ya mudah aja. Hanya butuh waktu untuk antri beberapa saat, namun membuat malaasss sekali ke BPJS.

2. Periksa di Fakes 1 (Fasilitas Kesehatan Tk.1)

Pilihan Fakes 1 bisa di Puskesmas atau dokter keluarga. saya sendiri pilih Fakes di Puskesmas karena dekat dari rumah dan juga di puskesmas mau periksa apa-apa bisa.

Dokter Puskes awalnya meragukan saya punya gigi geraham di ujung, saking saat itu gusi saya bengkak menutupi gigi, jadi bener-bener gak keliatan ada secercah gigi disana.

3. Foto Gigi

Foto gigi tidak dilakukan di Puskesmas ya, tapi di laboratorium kesehatan sepeerti Pramita, Prodia, dll. Bu dokter Puskesmas sebenernya tidak memberi saya rujukan foto gigi, karena beliau tidak melihat gigi geraham saya yang bermasalah. Diagnosa nya gusi saya bengkak keinjek gigi atas. Karena sebel ibunya gak percaya kalo gigi saya ada dan bikin sakit, nekat aja foto gigi keesokan harinya. Untuk biaya foto gigi saya mengeluarkan uang Rp. 240.000 untuk foto seluruh gigi.

4. Minta Rujukan dariΒ  Fakes 1 ke Dokter Spesialis

Selesai foto, saya kembali ke Puskesmas. Karena jujur harapan saya adalah cepet dapat rujukan ke bedah mulut biar cepet selese semuanya. Begitu melihat foto gigi, barulah Bu Dokter Puskesmas percaya ada gigi yang tidak terlihat dan menimbulkan bengkak gusi saya, kemudian membuatkan saya rujukan ke Poli Gigi RS. Pratama Kota Yogyakarta. RS nya masih baru banget, jadi antriannya tidak tetlalu panjang. Saya dijadwalkan operasi 5 hari kemudian karena masih menunggu pembengkakan hilang, dan bisa membuka mulut lebar-lebar.

5. Operasi Kecil Pengangkatan Gigi

Akhirnya, Rabu, 1 Maret 2017 moment pencabutan gigi terjadilah. Tidak perlu menyiapkan baju untuk menginap di RS ya! gak butuh banget. Saya masuk ruang dokter sekitar jam 7.50. Setelah ukur tensi darah, saya dipersilahkan naik ke kursi periksa gigi. Setelah dijelaskan singkat tentang operasi yang akan dilakukan dan beberapa kemungkinan-kemungkinan buruk, dimulailah operasinya. Proses pembiusan itu sih yang bikin saya rada ndredeg. Dibilang sakit banget ya mungkin enggak ya, tapi serius, pas kumur-kumur setelah proses bius, saya berasa shock banget sampe badan mendadak kaku. Setelah itu pipi sampai bibir mulai berasa membesar, berasa aja, karena efek bius nya mulai bekerja.

Proses pencabutan gigi ya gak ada rasanya sih ya. Hanya terdengar suara alat-alat dan percakapan dokter-perawat aja. Terus tau-tau ada rasa-rasa benang di sekitar mulut, ternyata proses jahit luka sedang dilakukan. Sudah sih begitu saja. Pukul 8.15 saya udah keluar dari poli gigi untuk selanjutnya ke kasir dan farmasi. Karena menggunakan fasilitas BPJS, operasi kecil ini bebas biaya πŸ™‚

PASCA OPERASI

Setelah operasi selesai, saya kembali dulu ke rumah untuk menyimpan berkas-berkas rumah sakit dan foto gigi, untuk selanjutnya menuju ke kantor dan berniat kerja seperti biasanya. Satu jam dua jam semua rasanya baik-baik saja. Kemudian kepala mulai terasa panas dan berat. Masih bisa ditahan. Tidak lama kemudian, bersamaan dengan berangsur habisnya efek anestesi, segala nyut-nyutan, nyeri, dan pusing akhinya menghampiri. teng tengggg….jam 11.30 resmi minta ijin pulang karena udah kagak tahan πŸ˜€

 

 

 

 

Homestay, Mengenal Lebih Dekat Keluarga Jepang

Homestay di luar negeri adalah salah satu cara menginap yang unik dan dapat merasakan kedekatan dengan penduduk local. Saat kunjungan ke Jepang dalam rangka Jenesys2016 beberapa saat yang lalu, alhamdulillah kami mendapat kesempatan untuk tingal di rumah penduduk walaupun hanya … Baca lebih lanjut

Belajar Kebiasaan Baik Orang Jepang Melalui Jenesys

Januari 2017 Saya dan 19 teman lain dari Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama berkesempatan mengunjungi Jepang sebagai bagian dari program Jenesys2016 yang diselenggarakan oleh Japan International Cooperation Center (JICE). Dalam kunjungan singkat kami, ada banyak sekali pelajaran berharga yang mungkin kita … Baca lebih lanjut

First Experience as Dhaup Guesthouse Additional Host

Alkisah saya punya teman sejak eSeMPe yang masih akrab sampai sekarang. Apalagi karena saya anak luar Jogja, saya jadi suka main ke rumahnya, nginep, dan kenal denga sebagian keluarga besarnya juga. Karena pertemanan itu, akhirnya membawa saya terdampar di Dhaup … Baca lebih lanjut