2 days in Bangka, a Duty of Nasyiah and a Pleasure of Traveler

Nasyiatul Aisyiyah, sebagai organisasi putri Muhammadiyah memiliki struktur berjenjang dari Pusat sampai ke ranting di tingkat desa/kelurahan.  Mengabdi dan beraktifitas di Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah sudah menjadi kewajiban untuk mendampingi pimpinan di bawahnya, pun dalam agenda Musyawarah Wilayah.

Takdir Allah lah pastinya yang membawa saya ke Bangka. Saya yang baru 3 hari lepas menjalani operasi kecil impaksi geraham belakang, dengan ngilu-nyeri sedap yang tidak bisa dihindari, diamanahi untuk mendampingi agenda Musyawarah Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Kepulauan Bangka Belitung.

Berangkat dari Jogja hari Jumat malam agar tidak terlalu banyak bolos kerja, mengharuskan saya menginap di bandara Soetta karena penerbangan ke Bangka baru keesokan harinya. Gapapa lah. Ini nikmat nya jadi traveler yang siap sedia tidur di mana saja. Toh saya tidak sendiri, ada banyak calon penumpang lain yang juga melakukan hal yang sama.

IMG_20170304_073601

bentuk ketika memasuki Bangka. super dekil langsung mejeng di depan banner Danau Kaolin 😀

Tiba di Bangka keesokan harinya, dari singa yang saya tumpangi saya mulai mengeksplorasi Bangka. Sebagian besar yang saya lihat adalah hijau. Kemudian mata saya menangkap pesona genangan biru hijau dikelilingi tanah putih. Saya segera menyadari Danau Kaolin ternyata ada juga di Bangka. And set the target!! i need to be there.. 😀

Bandara baru Depati Amir Pangkal Pinang adalah bandara baru, dan berdesain modern. Sungguh kontras dengan pemandangan dari udara. Bersama dengan Yunda-yunda Nasyiah yang sudah cantik berseragam, kami segera meningglkan bandara yang di depannya mulai ramai karena penyelenggaraan kejuaraan balap motocross dunia MXGP.

Musyawarah Wilayah berlangsung sederhana, tertib, dan lancar. Alhamdulillah bisa berjumpa juga dengan teman-teman dari 7 kabupaten kota, dan beberapa cabang. Nyeri luar biasa setelah menyampaikan amanah pimpinan pusat dan arahan abcd hanya bisa ditahan dengan senyuman. Obat anti nyeri resep Bapak Dokter tidak sanggup memberi banyak arti. The show must go on. Senyum harus tetap terkembang karena banyak hal yang harus disampaikan. Hanya sesekali mengurut pipi kiri berharap pijatan ringannya melemaskan rahang dan meredakan nyeri. Alhamdulillah sebelum hari berakhir aneka agenda utama telah selesai. Ketua Umum baru pun telah terpilih. Selesai sudah tugas mendampingi.

IMG_20170304_150930_HDR

bersama Ketua Terpilih Nasyiatul Aisyiyah Bangka Belitung

Melebur Bersama Menuju Sungai Liat

Tak banyak tempat hiburan di Pulau Bangka. Bioskop pun sangat baru dan hanya satu. Ada satu dua tempat karaoke keluarga juga. Tapi banyak yang bisa dinikmati disana. Klenteng Kong Hu Chu atau Te Pe Kong ada banyak jumlahnya. Tidak heran karena suku Tionghoa adalah penduduk asli disini.

Bersama teman-teman dari beberapa daerah termasuk Belitung dan Belitung Timur, dan guide Kak Aisyah dan Yuli dari pimpinan wilayah, melancong lah kami. Setelah gagal melewati Jembatan Emas penghubung Kabupaten Bangka dan Pangkal Pinang, kami berbalik arah menuju Kabupaten Sungai Liat  mengunjungi Pantai Puri Agung. Ada Te Pe Kong Puri Agung disana.

IMG_20170304_173309_HDR

Klenteng Puri Agung

IMG_20170304_172601_HDR

pemandangan lautan dari teras klenteng Puri Agung

Lepas dari Puri Agung kami menuju Pantai Tikus Emas sebelum matahari total terbenam. Pantai Tikus Emas landai dan walaupun belum 100% siap namun tertata baik. Sengaja disiapkan untuk wisata dan tempat makan. Lampion-lampion merah menghias jalan-jalan menuju ke pantai. Maskotnya adalah patung tikus berwarna emas. Mungkin itu simbol dewa tikus? entahlah.

IMG_20170304_175132_HHT

Setelah shalat magrib saatnya mencoba otak-otak di Pulau Bangka. Sambel nya enyakkkk. Yang pake tauco atau enggak, semua yummyyyyy..!! apalah arti sakit gigi kalo bisa makan seenak ini. Cieeee…

IMG_20170304_190705

otak-otak Bangka yang endeuuuusssssss….

Pemberhentian terakhir adalah d’Locomotief di Pantai Longaci, masih di Kabupaten Sungai Liat. Pantai nya merupakan pantai private yang disulap menjadi kawasan makan, penangkaran kura-kura, dan tempat asik untuk foto-foto.

What a long day ya..!!! dan ternyata ini bukan akhir perjalanan, karena kami masih menutup perjalan dengan makan malam bersama 🙂

Setelah istirahat malam dilanjutkan pengajian Ahad Pagi di Panti Asuhan Putri Pangkal Pinang, kami bersiap untuk berpetualang hari kedua. Sayang sekali kawan-kawan dari Pulau Belitung tidak bisa bergabung karena harus kembali dengan pesawat pagi. Alhasil rombongan hanya terdiri dari beberapa orang saja.

Sambil menunggu mobil kembali dari mengantar anak-anak panti ke sebuah acaea, saya diantar Yuli menikmati Bangka di pagi hari. Naik motor menuju kawasan Air Itam untuk liat kelenteng Dewi Laut, lanjut pantai Pasir Padi, trus bablas Bangka Botanical Garden.

 

Yang menarik, kelenteng-kelenteng itu dijaga anjing-anjing lho. Wakyu di Puri Agung, guguk yang banyak jumlahnya ngekorin kita minta makan aja. Aduh kan langsung inget si Timbul, kucing di rumah Dhaup yang gak bisa slow kalo liat kita bawa makanan. Waktu di kelenteng Dewi Laut, duo guguk nya malah bobo manis di halaman klenteng. Menurut info Yuli, guguknya bakal adem ayem kalo yang masuk area klenteng itu hatinya baik tanpa maksud jahat. Alhamdulillah yaaaa…gak dapet gonggongan sekalipun, padahal videoin guguknya ampe deket.

Tujuan utama hari kedua adalan Danau Kaolin, dan sebenernya dari Pangkalpinang sudah agak kesiangan karena pukul 15.30 harus sudah terbang kembali. Ternyata lokasi Danau Kaolin cukup jauh di bagian selatan Bangka. Perjalanan kesana memakan waktu satu sampai satu setengah jam. Untungnya jalanan di Bangka walaupun kecil, tapi tidak banyak kendaraan. Lancar Jaya..!!!

Sampai lokasi langsung ya terkesima dengan kontra tanah putih dan biru dan hijaunya air danau. Luar Biasa. Bahkan saat langit mendung, indahnya tetap terpancar. Apa kabar kalo cuaca cerah ya..?? mungkin akan tambah cemerlang berlatar birunya langit.

IMG_20170305_120238_HDR-01

 

 

 

 

 

Saat Geraham Harus Dicabut..

Gigi manusia normalnya berjumlah 32 gigi, terbagi dua di bagian rahang atas dan bawah. Pun diriku. Punya 32 gigi yang harusnya udah keluar semua karena kan aku udah usia dewasa. Cieeee

Tapi kasus saya adalah, dari 16 gigi yang harusnya nangkring di rahang bawah, hanya 14 gigi aja yang bisa “unjuk gigi” dengan sempurna..yang satu tumbuh miring tenggelam di dalam gusi tapi alhamdulillah tidak menimbulkan rasa sakit, yang satu lagi ini, dia tumbuh lebih tegak daripada kembarannya, tapi berulang kali timbul tenggelam dan menimbulkan nyeri-nyeri nyut-nyut an sampe migren-migren an…

Setelah belasan tahun berulang kali sakit gigi, akhinya aku menyerah juga dan bersiap minta pak dokter buat cabut gigi. Karena udah punya BPJS, jadi harus dimanfaatkan ya.

  1. Urus BPJS

Walaupun lebih separo umur saya habiskan di Jogja, seluruh tanda pengenal saya mulai masih beralamatkan Semarang. Agar BPJS bisa dipakai di Jogja ternyata ya mudah aja. Hanya butuh waktu untuk antri beberapa saat, namun membuat malaasss sekali ke BPJS.

2. Periksa di Fakes 1 (Fasilitas Kesehatan Tk.1)

Pilihan Fakes 1 bisa di Puskesmas atau dokter keluarga. saya sendiri pilih Fakes di Puskesmas karena dekat dari rumah dan juga di puskesmas mau periksa apa-apa bisa.

Dokter Puskes awalnya meragukan saya punya gigi geraham di ujung, saking saat itu gusi saya bengkak menutupi gigi, jadi bener-bener gak keliatan ada secercah gigi disana.

3. Foto Gigi

Foto gigi tidak dilakukan di Puskesmas ya, tapi di laboratorium kesehatan sepeerti Pramita, Prodia, dll. Bu dokter Puskesmas sebenernya tidak memberi saya rujukan foto gigi, karena beliau tidak melihat gigi geraham saya yang bermasalah. Diagnosa nya gusi saya bengkak keinjek gigi atas. Karena sebel ibunya gak percaya kalo gigi saya ada dan bikin sakit, nekat aja foto gigi keesokan harinya. Untuk biaya foto gigi saya mengeluarkan uang Rp. 240.000 untuk foto seluruh gigi.

4. Minta Rujukan dari  Fakes 1 ke Dokter Spesialis

Selesai foto, saya kembali ke Puskesmas. Karena jujur harapan saya adalah cepet dapat rujukan ke bedah mulut biar cepet selese semuanya. Begitu melihat foto gigi, barulah Bu Dokter Puskesmas percaya ada gigi yang tidak terlihat dan menimbulkan bengkak gusi saya, kemudian membuatkan saya rujukan ke Poli Gigi RS. Pratama Kota Yogyakarta. RS nya masih baru banget, jadi antriannya tidak tetlalu panjang. Saya dijadwalkan operasi 5 hari kemudian karena masih menunggu pembengkakan hilang, dan bisa membuka mulut lebar-lebar.

5. Operasi Kecil Pengangkatan Gigi

Akhirnya, Rabu, 1 Maret 2017 moment pencabutan gigi terjadilah. Tidak perlu menyiapkan baju untuk menginap di RS ya! gak butuh banget. Saya masuk ruang dokter sekitar jam 7.50. Setelah ukur tensi darah, saya dipersilahkan naik ke kursi periksa gigi. Setelah dijelaskan singkat tentang operasi yang akan dilakukan dan beberapa kemungkinan-kemungkinan buruk, dimulailah operasinya. Proses pembiusan itu sih yang bikin saya rada ndredeg. Dibilang sakit banget ya mungkin enggak ya, tapi serius, pas kumur-kumur setelah proses bius, saya berasa shock banget sampe badan mendadak kaku. Setelah itu pipi sampai bibir mulai berasa membesar, berasa aja, karena efek bius nya mulai bekerja.

Proses pencabutan gigi ya gak ada rasanya sih ya. Hanya terdengar suara alat-alat dan percakapan dokter-perawat aja. Terus tau-tau ada rasa-rasa benang di sekitar mulut, ternyata proses jahit luka sedang dilakukan. Sudah sih begitu saja. Pukul 8.15 saya udah keluar dari poli gigi untuk selanjutnya ke kasir dan farmasi. Karena menggunakan fasilitas BPJS, operasi kecil ini bebas biaya 🙂

PASCA OPERASI

Setelah operasi selesai, saya kembali dulu ke rumah untuk menyimpan berkas-berkas rumah sakit dan foto gigi, untuk selanjutnya menuju ke kantor dan berniat kerja seperti biasanya. Satu jam dua jam semua rasanya baik-baik saja. Kemudian kepala mulai terasa panas dan berat. Masih bisa ditahan. Tidak lama kemudian, bersamaan dengan berangsur habisnya efek anestesi, segala nyut-nyutan, nyeri, dan pusing akhinya menghampiri. teng tengggg….jam 11.30 resmi minta ijin pulang karena udah kagak tahan 😀