Belajar Kebiasaan Baik Orang Jepang Melalui Jenesys

Januari 2017 Saya dan 19 teman lain dari Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama berkesempatan mengunjungi Jepang sebagai bagian dari program Jenesys2016 yang diselenggarakan oleh Japan International Cooperation Center (JICE). Dalam kunjungan singkat kami, ada banyak sekali pelajaran berharga yang mungkin kita sudah banyak tahu, tapi merasakan sendiri kehidupan di Jepang, sungguh berbeda rasanya.

dsc_2157_1

Ini bus lho…bukan mobil atau pesawat..

Setelah bertemu dengan guide local di Bandara Narita, kami menaiki bus menuju Tokyo. Yang begitu berbeda dari Indonesia, sebelum bus melaju, seluruh penumpang harus dalam keadaan duduk dan memakai seat belt. Terlebih saat akan memasuki jalan tol. Peringatan untuk memakai sabuk pengaman selalu diberikan. Saat sampai ke hotel pun kami mendapatkan pengarahan untuk keadaan darurat jika terjadi bencana, dan memastikan kami mengetahui arah jalur evakuasi. Di dalam kamar hotel pun dilengkapi dengan senter. Sangat mengutamakan keselamatan.

1-1

Petunjuk jalur darurat sudah sering lihat dimana-mana, tapi senter di dalam kamar baru memperhatikan di Jepang..

Seperti masyarakat negara maju pada umumnya, orang Jepang sangat menghargai waktu. Jadwal kami selama satu minggu sudah tersusun rapi dan dibagikan sebelum kami memulai keseluruhan program. Sebagai orang Indonesia, yang terkenal dengan jam karetnya, kami agak kesulitan di hari-hari pertama yang berakibat tiba di ruang orientasi dan kuliah mepet sebelum acara dimulai sedangkan penceramah sudah lebih dahulu datang menunggu peserta. Maklum, untuk unpack luggage, mandi, bersiap, membutuhkan waktu juga. Apalagi toilet modern Jepang agak sulit kami gunakan, membuat waktu di kamar mandi menjadi lebih lama. Koordinator kami di Jepang, Bapak Takagi, sampai berulang kali mengingatkan masalah ketepatan waktu dan mohon kerjasama peserta. Jadi malu. Syukurlah lambat laun kami terbiasa mengikuti ritme Jepang.

Budaya menghargai orang lain pun kami rasakan. Ketika saya memberikan kepada pembicara cinderamata kecil dari Indonesia, beliau senang sekali dan mengajak foto bersama. Terharu sekali rasanya, karena jika dilihat nominalnya, cinderamata kecil itu lebih murah harganya daripada gantungan kunci Jepang yang mungkin dianggap oleh-oleh remeh bagi sebagian orang. Pun saat kami memberikan cinderamata untuk guide kami saat mengunjungi Wasabi Farm. Katanya baru sekali ini dapat banyak oleh-oleh, dan membalas dengan membagikan snack wasabi untuk rombongan.

img-20170120-wa0003

Diajak foto bersama oleh Bapak Hideo Kimura karena memberi oleh-oleh kecil yang hanya sepuluh ribu rupiah

Belum lagi tentang kebiasaan orang Jepang menghabiskan makanannya. Sebelum makan selalu tertucap β€œittadakimasu” sebagai bentuk syukur atas makanan yang terhidang. Makan berbunyi dan sampai habis adalah bentuk penghargaan kepada yang memasak. Porsi makan orang Jepang yang sedikit-sedikit tapi jadinya banyak juga membuat kami merasa bersalah Karena berujung tidak habis.

Budaya tertib dapat dilihat dari kebiasaan mengantre, misalnya. Walaupun sampe program berakhir kami tidak pernah naik bus umum, tapi terlihat dari jalanan bagaimana tertibnya calon penumpang mengantri dalam satu line sebelum masuk bus. Masuk ke dalam kereta pun demikian tertib. Tanpa diperingatkan, calon penumpang kereta akan memberi kesempatan penumpang yang turun dulu sebelum naik ke kereta. Di dalam kereta biasanya tenang. Hanya kami, rombongan wisatawan, yang ngobrol sepanjang jalan.

anak-sekolah-jepang

Anak-anak berangkat sekolah tidak diantar orang tua karena sekolah yang dekat dan lalu lintas yang aman

Masyarakat Jepang diajarkan sejak kecil untuk mandiri dan bekerja keras. Sejak sekolah dasar, sekolah dipilih yang dekat dari rumah sehingga dapat pergi ke sekolah sendiri. Di setiap perempatan akan ada relawan lansia yang membantu anak-anak menyeberang. Masyarakat Jepang tidak tergantung pada pelayanan orang lain. Di beberapa restoran, konsumen akan mengangkat piring kotor dan sisa makanan ke tempat yang disediakan. Di beberapa swalayan juga terlihat konsumen membungkus sendiri belanjaan mereka.

Tong sampah hampir jarang di temui di ruang public, namun tidak ada sampah berserakan di jalanan. Jika menemui tempat sampah, akan ditemui wadah-wadah berbagai jenis. Ada wadah khusus untuk sampah plastic, kertas, kaca, dan limbah rumah tangga. Pemilahan sejak awal sampah-sampah tersebut memudahkan untuk pengolahan selanjutnya.

dsc_2177

Bayangin bisa jalan kaki senyaman ini di Jakarta..Di Jogja saja belum senyaman ini..

Bagaimana? Siap mulai meniru kebiasaan baik Orang Jepang?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s